· Jon Mukidi · Gadget  · 6 min read

Mitos Spesifikasi di Atas Kertas: Membongkar Ilusi Infinix Note 50 Pro dan Menagih Janji 'Tobat' di Seri Note 60

Di persimpangan tahun 2026, Infinix menghadapi dilema besar. Apakah Note 50 Pro masih relevan, atau Note 60 Pro adalah penyelamat yang ditunggu? Berikut analisis tajamnya.

Di persimpangan tahun 2026, Infinix menghadapi dilema besar. Apakah Note 50 Pro masih relevan, atau Note 60 Pro adalah penyelamat yang ditunggu? Berikut analisis tajamnya.

Memasuki pekan ketiga Januari 2026, peta persaingan smartphone kelas menengah (mid-range) di Indonesia bukan lagi sekadar perang harga, melainkan perang relevansi. Di satu sisi, teknologi 5G sudah menjadi standar mati bagi operator seluler, dan tuntutan pengguna terhadap ekosistem perangkat lunak yang bersih semakin kritis.

Di tengah arena berdarah ini, Infinix berdiri di persimpangan jalan yang canggung. Di etalase toko ritel, mereka masih menjajakan Infinix Note 50 Pro—sisa kejayaan tahun lalu yang mulai terasa usang. Namun di balik layar, rumor kehadiran Infinix Note 60 Pro dengan perombakan total mulai santer terdengar.

Pertanyaannya bagi konsumen cerdas hari ini sederhana namun krusial: Apakah kita harus membeli apa yang ada sekarang, menunggu apa yang akan datang, atau justru meninggalkan merek ini sepenuhnya?

Mari kita bedah anatomi kasus ini hingga ke tulang-tulangnya.

Bagian I: Infinix Note 50 Pro dan Ilusi “Angka Besar”

Jika Anda berjalan ke pusat perbelanjaan elektronik hari ini dengan uang Rp 3 jutaan, pramuniaga kemungkinan besar akan menyodorkan Infinix Note 50 Pro. Di atas kertas, spesifikasinya tampak seperti mimpi basah para tech enthusiast: Layar AMOLED 144Hz, kamera 108MP dengan OIS, dan pengisian daya 90W yang ngebut.

Namun, sebagai analis, saya harus mengatakan ini dengan tegas: Jangan tertipu oleh angka.

Di tahun 2026, Note 50 Pro menyimpan “bom waktu” bernama MediaTek Helio G100 Ultimate. Meskipun terdengar canggih dengan embel-embel “Ultimate”, chipset ini sejatinya hanyalah arsitektur tua (turunan Helio G99) yang dipoles ulang.

Disparitas Layar dan Mesin

Memberikan layar 144Hz pada chipset sekelas Helio G100 adalah sebuah ironi teknik. Ibarat memasang ban balap Formula 1 pada mobil keluarga, mesinnya tidak akan pernah sanggup memacu ban tersebut ke potensi maksimalnya.

Realitas gaming-nya pahit. Anda tidak akan bisa memainkan judul populer tahun ini seperti Zenless Zone Zero atau Genshin Impact dengan frame rate stabil di atas 60 FPS, apalagi 144 FPS. Kemulusan layar “premium” itu hanya akan Anda nikmati saat scrolling menu atau Instagram, namun menjadi mubazir saat dituntut kinerja berat. Ditambah lagi, ini adalah ponsel 4G di era di mana spektrum jaringan lama mulai dipangkas untuk ekspansi 5G.

Mimpi Buruk Para “Opreker”

Bagi Anda yang berpikir, “Ah, nanti saya ganti saja OS-nya supaya lebih ngebut dan bersih,” Anda sedang menuju jalan buntu.

Infinix Note 50 Pro tidak memiliki dukungan komunitas pengembangan resmi seperti LineageOS atau PixelExperience. Anda dipaksa menggunakan metode GSI (Generic System Image) yang penuh risiko. Memaksakan GSI di ponsel ini berarti membunuh fitur utamanya: VoLTE mati (tidak bisa melakukan panggilan telepon standar), Fast Charging 90W lumpuh menjadi lambat, dan kualitas kamera bawaan hancur lebur.

Singkatnya, Note 50 Pro adalah produk yang “terjebak” di masa lalu, mencoba relevan dengan kosmetik layar dan baterai, namun rapuh di bagian mesin.

Bagian II: “Penyakit Menahun” Bernama Software XOS

Sebelum kita membahas masa depan (Note 60 Pro), kita harus membahas gajah di pelupuk mata yang menghantui seluruh lini produk Infinix, baik yang lama maupun yang akan datang: Perangkat Lunak.

Secanggih apapun perangkat kerasnya, nyawanya ada di software. Di sinilah Infinix seringkali gagal bersaing dengan Samsung atau grup Transsion lainnya.

  1. Bloatware yang “Kurang Ajar”: Update sistem operasi (XOS) seringkali bukan membersihkan bug, tapi justru menjadi “kuda troya” yang menyelundupkan aplikasi sampah baru. Pengguna setia sering melaporkan munculnya game-game aneh atau toko aplikasi pihak ketiga (Palm Store) yang tiba-tiba aktif kembali dan mengirim notifikasi spam setelah update sistem.
  2. Manajemen Update yang Lambat: Di saat kompetitor seperti Samsung menjanjikan 4 tahun update OS dengan jadwal rilis yang ketat, Infinix masih bekerja dengan zona waktu mereka sendiri. Update Android terbaru seringkali datang terlambat 6 hingga 8 bulan. Di dunia keamanan siber yang bergerak cepat, keterlambatan security patch adalah risiko nyata.

Jika Anda tipe pengguna yang menginginkan antarmuka bersih, bebas iklan, dan update tepat waktu, Infinix—baik seri 50 maupun 60—masih memiliki PR besar yang belum terselesaikan.

Bagian III: Infinix Note 60 Pro — Harapan Baru atau Gimmick Semata?

Sekarang, mari kita lihat ke depan. Bocoran rantai pasok dan sertifikasi SDPPI mengindikasikan bahwa Infinix Note 60 Pro akan mendarat di Indonesia sekitar Februari-Maret 2026. Dan kali ini, sepertinya Infinix mulai “tobat”.

Revolusi Snapdragon

Kabar paling menggembirakan adalah potensi perpindahan otak dari MediaTek Helio ke Snapdragon seri 7 (kemungkinan besar varian 7s Gen 4 atau 7 Gen 3). Jika rumor ini terbukti valid, ini adalah game changer.

Chipset Snapdragon membuka pintu lebar bagi stabilitas suhu yang lebih baik (mengatasi isu panas pada seri Helio) dan yang terpenting: Akses ke Google Camera (GCam). Komunitas GCam untuk Snapdragon jauh lebih hidup dan stabil, memungkinkan pengguna menutupi kelemahan post-processing kamera bawaan Infinix yang seringkali terlalu tajam (oversharpening).

Fitur “Satelit” vs Utilitas Nyata

Infinix diprediksi akan membawa fitur Komunikasi Satelit dan Charging 100W+. Namun, saya sarankan Anda bersikap skeptis pada fitur satelit. Di Indonesia, regulasi soal ini rumit dan kemungkinan besar fitur ini hanya gimmick marketing yang terkunci.

Sebaliknya, fokuslah pada 100W Charging. Di kelas harga 3-4 jutaan, ini adalah fitur “pembunuh” yang membuat Samsung terlihat sangat pelit dengan 25W mereka. Jika Note 60 Pro benar-benar membawa ini dengan Snapdragon yang efisien, ia punya potensi besar.

Bagian IV: Vonis Pasar & Panduan Pembelian

Jadi, apa kesimpulannya? Apakah dompet Anda harus dibuka sekarang untuk stok lama, atau menunggu sang penerus?

1. Vonis untuk Infinix Note 50 Pro: “TIDAK LAYAK”

Kecuali Anda dalam keadaan darurat, hanya memiliki anggaran pas Rp 3 juta, serta sangat membutuhkan fitur wireless charging, hindari ponsel ini. Performanya sudah tertinggal, ketiadaan 5G adalah investasi buruk, dan dukungan komunitasnya nihil. Biarkan ia menjadi sejarah.

2. Vonis untuk Infinix Note 60 Pro: “WAIT AND SEE”

Ponsel ini memiliki potensi menjadi Raja Mid-Range 2026 JIKA benar menggunakan Snapdragon dan JIKA Infinix bisa menahan diri untuk tidak membanjiri XOS dengan iklan. Jangan melakukan pre-order. Tunggu ulasan jujur satu bulan setelah rilis untuk memastikan isu suhu dan iklan.

3. Alternatif Bagi “Kaum Mending” (The Real Worth It)

Jika uang Rp 3.500.000 - Rp 4.000.000 ada di tangan Anda sekarang, berikut adalah alokasi terbaiknya:

  • Untuk Pemuja Kecepatan: POCO X6 Pro / Calon F7. Di rentang harga ini, POCO tidak terkalahkan dalam hal performa mentah. Chipset Dimensity seri 8000 atau Snapdragon seri 8 lawas yang mereka pakai akan menggilas performa Infinix Note series manapun. Jika prioritas Anda adalah gaming rata kanan, lupakan Infinix, ambil POCO.
  • Untuk Pencari Ketenangan Batin: Samsung Galaxy A35 / A36 5G. Mungkin charging-nya lambat. Mungkin desainnya membosankan. Tapi Samsung menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki Infinix: Kepastian. Kepastian update software 4 tahun, kepastian tahan air (IP67), dan kepastian harga jual kembali.
  • Untuk Keseimbangan: Redmi Note 14 Pro 5G. Xiaomi mulai berbenah di sektor durabilitas dengan sertifikasi IP68 (tahan rendaman air). Jika Anda mencari keseimbangan antara kamera bagus, performa oke, dan ketahanan fisik, ini adalah opsi jalan tengah yang paling aman.

Kata Penutup: Tahun 2026 bukan lagi eranya membeli ponsel hanya karena angka Megapixel atau Watt yang besar di brosur. Belilah ekosistem, belilah kenyamanan software, dan belilah performa yang relevan untuk jangka panjang. Infinix Note 60 Pro mungkin adalah masa depan yang cerah, tapi sampai barang itu terbukti di tangan penguji independen, dompet Anda lebih aman dialokasikan ke kompetitor yang lebih matang.

Lihat artikel lainnya

Artikel terkait

Lihat semua »